Takhalliyyah As-Sirr


Seorang arif dengan jelas membedakan antara berbagai fungsi dari lathifah-lathifah atau “fakultas-fakultas” ini. Katanya, “fungsi nafs ialah mengabdi, fungsi hati ialah mencintai, fungsi ruh ialah mencari kedekatan dengan Allah dan fungsi sirr ialah melenyapkan diri dalam pandangan Allah, Zat Mahabenar.”

Entah kita memandang sirr sebagai sebuah fakultas tersendiri, atau memandangnya sebagai bentuk ruh yang berkembang, atau bentuk hati, mengosongkan sirr adalah sebuah langkah penting dalam suluk. Kami akan menguraikan beberapa metode yang digunakan oleh kaum Sufi guna mengosongkan sirr.

Sebagaimana dinyatakan di atas, mengosongkan sirr di capai dengan muraqabah atau “kentemplasi”. Ia adalah sebuah laku jiwa atau pikiran. Sebelumnya, kami telah menjelaskan bahwa kata muraqabah berasal dari kata raqib yang bermakna seorang pengawal, penjaga, dan seorang yang menunggu. Allah berfirman:

Maka tunggulah olehmu. Sungguh, mereka pun sedang menunggu. (QS Ad-Dukhan, 44 : 59).


Allah juga berfirman :

..…Sungguh, Allah selalu mengawasi kamu. (QS An-Nisa, 4 : 1).

Dalam artian teknis, muraqabah bermakna penalaran, perenungan, dan idealisasi. Syah Waliyullah, dalam catatan pinggir dalam bukunya yang sangat berharga Qawl al-Jamil, mengatakan :

Esensi muraqabah adalah memusatkan fakultas persepsi pada hal tertentu, misalnya saja, salah satu sifat Allah, atau pada kondisi sesudah jiwa meninggalkan raga, atau pada keadaan atau kondisi mental lainnya. Konsentrasi ini mestilah disertai oleh segenap kekuatan jiwa, pikiran, dan imajinasi, agar apa yang tidak dipersepsi atau dirasakan bisa diintuisi dan diketahui dengan jelas.

Sesuatu yang dipersepsi atau dirasakan adalah sesuatu yang dirasakan oleh pancaindera. Begitu pula, sesuatu yang tidak bisa dipersepsi adalah sesuatu yang berada di luar jangkauan pancaindera. Umpamanya saja, kematian baru bisa dirasakan setelah terjadi. Akan tetapi, jika kita menutup mata kita dan membayangkan bahwa nyawa kita telah meninggalkan raga kita, dan mata serta mulut kita tetap terbuka, kemudian — kendatipun kita tidak merasakan kematian — maka dalam cara tertentu kita mungkin mengetahui apa itu kematian. Inilah mungkin apa yang dimaksudkan, “Apa yang tidak dirasakan oleh Syah Shahib ketika mengatakan, “Apa yang tidak dirasakan, bisa diintuisi dengan jelas.”

Jika kita memahami hal yang sangat ditekankan oleh Syah Waliyullah ini, maka praktik kontemplasi tentang uraian apa pun menjadi mudah.

Untuk menjelaskan hakikat muraqabah itu sepenuhnya, Imam al-Qusyairi, dalam karyanya Ar-Risalah al-Qusyayriyyah, menukil kasus seorang anak yang pernah dijumpai oleh ‘Abdullah ibn ‘Umar dalam suatu perjalanan ketika menggembalakan sekawanan biri-biri di bawah sebuah bukit kecil. Ibn ‘Umar bertanya kepada anak itu apakah ia mau menjual salah satu anak biri-biri dalam gembalanya. “Tidak,” tukasnya dengan cepat. “Mengapa ?” tanya Ibn ‘Umar, “Sebab anak biri-biri itu bukan kepunyaanku,” jawab anak itu.” jawab anak itu. “Anak biri-biri ini milik tuanku dan aku adalah budaknya.” “Ada apa ?” kata Ibn ‘Umar, “ambilah uang ini, berikan anak biri-biri itu kepadaku dan katakan pada tuanmu bahwa ada seekor srigala menerkam dan membawa lari anak biri-biri ini.” Anak itu menatap Ibn ‘Umar dan berkata, “Fa ayna Allah (lalu, di mana Allah) ? ” Makna diungkapkannya sangat jelas. Ia bisa saja mengelabui tuannya yang ada di sisi lain bukit itu. Namun, ia tidak bisa mengelabui Tuhannya yang senantiasa mengawasi dan mendengarkan mereka berdua. Ibn ‘Umar amat menghargai jawaban anak itu dan biasa mengulang-ulang kisah ini kepada sahabat-sahabatnya, seraya mengingat kata-kata anak itu “fa ayna Allah” yang dengan jelas menunjukkan bahwa ia merasakan kehadiran Allah bersama dirinya. Inilah esensi muraqabah itu sendiri, yakni bahwa Allah senantiasa mengawasi kita.

Muraqabah adalah kesadaran tentang Allah yang senantiasa mengawasi kita di saat kita tenggelam dalam berbagai kesibukan sehari-hari. Allah melihat segala amal lahiriah dan batiniah kita serta segenap pikiran kita. Dia mengetahui apa yang dibisikkan jiwa manusia kepada dirinya sendiri. Dia juga lebih dekat kepada manusia ketimbang urat lehernya sendiri. Karena itu, Nabi Muhammad menganjurkan kepada kita untuk beribadah kepada Allah seolah-olah kita melihat-Nya.

Syah Waliyullah memandang hadis ini sebagai sumber tindakan muraqabah atau kontemplasi. karenanya, muraqabah pun didefinisikan demikian :

Muraqabah adalah mencamkan dengan tegas dalam pikiran bahwa Allah senantiasa mengawasi dirimu.

Muraqabah terjadi pada dua tataran : lahiriah dan batiniah. Kontemplasi bermakna :

Memalingkan segenap pancaindera dari dunia berikut segala isinya, dan memutuskan diri dari keduanya dalam keramaian, dan dari pikiran-pikiran muluk dan sia-sia di saat sendirian.

Hal ini dijelaskan oleh penulis terkemuka Al-Hujwiri dalam Kasyf al-Mahjub demikian :

Orang yang menjauhkan diri dari hawa nafsu pasti melihat Allah dengan mata-batinnya.

Dan penyair Sa’di mengungkapkan pengalamannya demikian :

Sa’di menutup mata seluruhnya pada dunia,

Agar ia sadari bahwa seluruh alam ini adalah

buah-pikiran Sang Kekasih.

Posted on 14 Januari 2012, in Renungan and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Ayo Komentar Sedulur Kami Tunggu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: