Wawasan Al-Qur’an


oleh : Dr. M. Quraish Shihab, M.A.

ILMU DAN TEKNOLOGI

Pandangan Al-Quran tentang ilmu dan teknologi dapat  diketahui
prinsip-prinsipnya  dari  analisis wahyu pertama yang diterima
oleh Nabi Muhammad Saw.

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang
menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari
‘alaq. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah.
Yang mengajar manusia dengan pena, mengajar manusia
apa yang tidak diketahuinya (QS Al-‘Alaq [96]: 1-5).

Iqra’ terambil dari akar kata yang  berarti  menghimpun.  Dari
menghimpun  lahir  aneka makna seperti menyampaikan, menelaah,
mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu, dan membaca baik
teks tertulis maupun tidak.

Wahyu  pertama  itu  tidak  menjelaskan apa yang harus dibaca,
karena Al-Quran menghendaki umatnya membaca  apa  saja  selama
bacaan  tersebut  bismi  Rabbik,  dalam  arti bermanfaat untuk
kemanusiaan.  Iqra’  berarti  bacalah,  telitilah,  dalamilah,
ketahuilah ciri-ciri sesuatu; bacalah alam, tanda-tanda zaman,
sejarah, maupun diri sendiri, yang tertulis maupun yang tidak.
Alhasil,  objek  perintah  iqra’  mencakup segala sesuatu yang
dapat dijangkaunya.


Pengulangan perintah membaca dalam  wahyu  pertama  ini  bukan
sekadar   menunjukkan   bahwa  kecakapan  membaca  tidak  akan
diperoleh  kecuali   mengulang-ulang   bacaan   atau   membaca
hendaknya  dilakukan sampai mencapai batas maksimal kemampuan.
Tetapi hal  itu  untuk  mengisyaratkan  bahwa  mengulang-ulang
bacaan bismi Rabbik (demi Allah] akan menghasilkan pengetahuan
dan wawasan baru, walaupun yang  dibaca  masih  itu-itu  juga.
Demikian pesan yang dikandung Iqra’ wa rabbukal akram (Bacalah
dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah).

Selanjutnya, dari wahyu  pertama  Al-Quran  diperoleh  isyarat
bahwa  ada  dua  cara  perolehan  dan pengembangan ilmu, yaitu
Allah mengajar dengan pena yang telah diketahui  manusia  lain
sebelumnya,  dan  mengajar  manusia  (tanpa  pena)  yang belum
diketahuinya. Cara pertama adalah mengajar  dengan  alat  atau
atas  dasar  usaha  manusia.  Cara kedua dengan mengajar tanpa
alat dan  tanpa  usaha  manusia.  Walaupun  berbeda,  keduanya
berasal dari satu sumber, yaitu Allah Swt.

Setiap  pengetahuan  memiliki  subjek  dan  objek. Secara umum
subjek  dituntut  peranannya  untuk  memahami   objek.   Namun
pengalaman    ilmiah   menunjukkan   bahwa   objek   terkadang
memperkenalkan diri kepada subjek  tanpa  usaha  sang  subjek.
Misalnya  komet  Halley  yang memasuki cakrawala hanya sejenak
setiap 76  tahun.  Pada  kasus  ini,  walaupun  para  astronom
menyiapkan  diri  dengan peralatan mutakhirnya untuk mengamati
dan  mengenalnya,  sesungguhnya  yang  lebih  berperan  adalah
kehadiran komet itu dalam memperkenalkan diri.

Wahyu,  ilham,  intuisi,  firasat  yang diperoleh manusia yang
siap  dan  suci  jiwanya,  atau  apa   yang   diduga   sebagai
“kebetulan”  yang  dialami  oleh  ilmuwan yang tekun, semuanya
tidak lain kecuali bentuk-bentuk pengajaran Allah  yang  dapat
dianalogikan  dengan  kasus  komet  di atas. Itulah pengajaran
tanpa  qalam  yang  ditegaskan  oleh  wahyu  pertama  Al-Quran
tersebut.

ILMU

Kata  ilmu  dengan  berbagai bentuknya terulang 854 kali dalam
Al-Quran. Kata ini  digunakan  dalam  arti  proses  pencapaian
pengetahuan  dan  objek  pengetahuan.  ‘Ilm  dari  segi bahasa
berarti kejelasan, karena itu segala yang terbentuk dari  akar
katanya  mempunyai  ciri  kejelasan.  Perhatikan misalnya kata
‘alam    (bendera),    ‘ulmat    (bibir    sumbing),    ‘a’lam
(gunung-gunung), ‘alamat (alamat), dan sebagainya. Ilmu adalah
pengetahuan yang jelas tentang  sesuatu.  Sekalipun  demikian,
kata  ini  berbeda  dengan  ‘arafa  (mengetahui)’  a’rif (yang
mengetahui), dan ma’rifah (pengetahuan).

Allah Swt. tidak dinamakan a’rif’ tetapi ‘alim,  yang  berkata
kerja   ya’lam   (Dia   mengetahui),   dan  biasanya  Al-Quran
menggunakan  kata  itu  –untuk  Allah–  dalam  hal-hal  yang
diketahuinya,  walaupun  gaib, tersembunyi, atau dirahasiakan.
Perhatikan objek-objek pengetahuan  berikut  yang  dinisbahkan
kepada  Allah:  ya’lamu ma yusirrun (Allah mengetahui apa yang
mereka rahasiakan), ya’lamu ma fi al-arham  (Allah  mengetahui
sesuatu  yang  berada  di  dalam rahim), ma tahmil kullu untsa
(apa yang  dikandung  oleh  setiap  betina/perempuan),  ma  fi
anfusikum (yang di dalam dirimu), ma fissamawat wa ma fil ardh
(yang ada di langit dan  di  bumi),  khainat  al-‘ayun  wa  ma
tukhfiy  ash-shudur (kedipan mata dan yang disembunyikan dalam
dada). Demikian juga ‘ilm  yang  disandarkan  kepada  manusia,
semuanya mengandung makna kejelasan.

Dalam   pandangan  Al-Quran,  ilmu  adalah  keistimewaan  yang
menjadikan manusia unggul terhadap makhluk-makhluk  lain  guna
menjalankan  fungsi  kekhalifahan.  Ini  tercermin  dari kisah
kejadian manusia pertama yang dijelaskan Al-Quran  pada  surat
Al-Baqarah (2) 31 dan 32:

Dan dia (Allah) mengajarkan kepada Adam, nama-nama
(benda-benda) semuanya. Kemudian Dia mengemukakannya
kepada para malaikat seraya berfirman, “Sebutkanlah
kepada-Ku nama-nama benda-benda itu jika kamu memang
orang-orang yang benar (menurut dugaanmu).” Mereka
(para malaikat) menjawab, “Mahasuci Engkau tiada
pengetahuan kecuali yang telah engkau ajarkan.
Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi
Mahabijaksana.”

Manusia, menurut Al-Quran, memiliki potensi untuk meraih  ilmu
dan   mengembangkannya   dengan   seizin  Allah.  Karena  itu,
bertebaran ayat yang memerintahkan manusia  menempuh  berbagai
cara untuk mewujudkan hal tersebut. Berkali-kali pula Al-Quran
menunjukkan   betapa   tinggi   kedudukan   orang-orang   yang
berpengetahuan.

Menurut  pandangan  Al-Quran –seperti diisyaratkan oleh wahyu
pertama– ilmu terdiri dari  dua  macam.  Pertama,  ilmu  yang
diperoleh  tanpa  upaya manusia, dinamai ‘ilm ladunni, seperti
diinformasikan antara lain oleh Al-Quran surat Al-Kahfi  (18):
65.

Lalu mereka (Musa dan muridnya) bertemu dengan
seorang hamba dan hamba-hamba Kami, yang telah Kami
anugerahkan kepadanya rahmat dari sisi Kami dan telah
Kami ajarkan kepadanya ilmu dan sisi Kami.

Kedua, ilmu yang diperoleh karena usaha manusia, dinamai  ‘ilm
kasbi.  Ayat-ayat  ‘ilm  kasbi jauh lebih banyak daripada yang
berbicara tentang ‘ilm laduni.

Pembagian  ini  disebabkan  karena  dalam  pandangan  Al-Quran
terdapat  hal-hal  yang  “ada”  tetapi  tidak  dapat diketahui
melalui upaya manusia sendiri. Ada wujud  yang  tidak  tampak,
sebagaimana ditegaskan berkali-kali oleh Al-Quran, antara lain
dalam firman-Nya:

Aku bersumpah dengan yang kamu lihat dan yang kamu
tidak lihat (QS Al-Haqqah [69]: 38-39).

Dengan demikian, objek ilmu meliputi  materi  dan  non-materi.
fenomena  dan  non-fenomena,  bahkan  ada wujud yang jangankan
dilihat, diketahui oleh manusia pun tidak.

Dia menciptakan apa yang tidak kamu ketahui (QS
Al-Nahl [16]: 8)

Dari  sini  jelas  pula  bahwa  pengetahuan  manusia   amatlah
terbatas, karena itu wajar sekali Allah menegaskan.

Kamu tidak diberi pengetahuan kecuali sedikit (QS
Al-lsra'[17]: 85).

OBJEK ILMU DAN CARA MEMPEROLEHNYA

Berdasarkan pembagian ilmu yang disebutkan  terdahulu,  secara
garis  besar  objek  ilmu dapat dibagi dalam dua bagian pokok,
yaitu alam materi dan alam  non-materi.  Sains  mutakhir  yang
mengarahkan  pandangan kepada alam materi, menyebabkan manusia
membatasi ilmunya pada bidang tersebut. Bahkan sebagian mereka
tidak  mengakui adanya realitas yang tidak dapat dibuktikan di
alam materi. Karena  itu.  objek  ilmu  menurut  mereka  hanya
mencakup  sains  kealaman dan terapannya yang dapat berkembang
secara  kualitatif  dan  penggandaan,  variasi  terbatas,  dan
pengalihan antarbudaya.

Objek  ilmu  menurut  ilmuwan  Muslim mencakup alam materi dan
non-materi. Karena itu,  sebagai  ilmuwan  Muslim  –khususnya
kaum  sufi  melalui  ayat-ayat  Al-Quran– memperkenalkan ilmu
yang  mereka  sebut  al-hadharat  Al-Ilahiyah  al-khams  (lima
kehadiran  Ilahi)  untuk  menggambarkan  hierarki  keseluruhan
realitas wujud. Kelima hal tersebut  adalah:  (l)  alam  nasut
(alam  materi),  (2)  alam  malakut  (alam kejiwaan), (3) alam
jabarut (alam ruh), (4) alam lahut (sifat-sifat Ilahiyah), dan
(5) alam hahut (Wujud Zat Ilahi).

Tentu  ada  tata  cara  dan  sarana yang harus digunakan untuk
meraih pengetahuan tentang kelima hal tersebut.

Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam
keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. dan Dia memberi
kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu
bersyukur (menggunakannya sesuai petunjuk Ilahi untuk
memperoleh pengetahuan) (QS Al-Nahl [16]: 78).

Ayat  ini  mengisyaratkan  penggunaan  empat   sarana   yaitu,
pendengaran, mata (penglihatan) dan akal, serta hati.

Trial   and  error  (coba-coba),  pengamatan,  percobaan,  dan
tes-tes kemungkinan  (probability)  merupakan  cara-cara  yang
digunakan ilmuwan untuk meraih pengetahuan. Hal itu disinggung
juga oleh Al-Quran, seperti dalam ayat-ayat yang memerintahkan
manusia   untuk   berpikir   tentang   alam   raya,  melakukan
perjalanan, dan sebagainya, kendatipun hanya berkaitan  dengan
upaya mengetahui alam materi.

Perhatikanlah apa yang terdapat di langit dan di bumi
… (QS Yunus [10]: 101).

Apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana unta
diciptakan, bagaimana langit ditinggikan, bagaimana
gunung ditancapkan dan bagaimana bumi dihamparkan?
(QS Al-Ghasyiyah [88]: 17-20).

Apakah mereka tidak memperhatikan bumi? Berapa banyak
Kami tumbuhkan di bumi itu aneka ragam tumbuhan yang
baik? (QS Al-Syu’ara’ [26]: 7)

Apakah mereka tidak melakukan perjalanan di bumi …
(QS 12: 109; 22: 46; 35: 44; dan lain-lain).

Di samping mata, telinga, dan pikiran  sebagai  sarana  meraih
pengetahuan,  Al-Quran  pun menggarisbawahi pentingnya peranan
kesucian hati.

Wahyu  dianugerahkan  atas  kehendak  Allah  dan   berdasarkan
kebijaksanaan-Nya  tanpa  usaha  dan  campur  tangan  manusia.
Sementara  firasat,  intuisi,  dan  semacamnya,  dapat  diraih
melalui   penyucian   hati.  Dari  sini  para  ilmuwan  Muslim
menekankan pentingnya tazkiyah an-nafs (penyucian  jiwa)  guna
memperoleh  hidayat (petunjuk/pengajaran Allah), karena mereka
sadar terhadap kebenaran firman Allah:

Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan
diri di muka bumi –tanpa alasan yang benar– dari
ayat-ayat Ku … (QS Al-A’raf [7]: 146).

Berkali-kali pula Al-Quran  menegaskan  bahwa  inna  Allah  la
yahdi,  sesungguhnya  Allah tidak akan memberi petunjuk kepada
al-zhalimin  (orang-orang  yang  berlaku  aniaya),  al-kafirin
(orang-orang yang kafir), al-fasiqin (orang-orang yang fasik),
man yudhil (orang yang disesatkan), man huwa  kadzibun  kaffar
(pembohong  lagi  amat  inkar), musrifun kazzab (pemboros lagi
pembohong), dan lain-lain.

Memang, mereka yang durhaka  dapat  saja  memperoleh  secercah
ilmu Tuhan yang bersifat kasbi, tetapi yang mereka peroleh itu
terbatas pada sebagian fenomena alam, bukan hakikat  (nomena).
Bukan pula yang berkaitan dengan realitas di 1uar alam materi.
Dalam konteks ini Al-Quran menegaskan:

… Tetapi banyak manusia yang tidak mengetahui.
Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari
kehidupan dunia sedangkan tentang akhirat mereka
lalai (QS Al-Rum [30]: 6-7).

Para   ilmuwan   Muslim   juga   menggarisbawahi    pentingnya
mengamalkan  ilmu.  Dalam konteks ini, ditemukan ungkapan yang
dinilai oleh sementara pakar sebagai hadis Nabi Saw.:

Barangsiapa mengamalkan yang diketahuinya maka Allah
menganugerahkan kepadanya ilmu yang belum
diketahuinya.

Sebagian ulama merujuk kepada Al-Quran surat  Al-Baqarah  ayat
282 untuk memperkuat kandungan hadis tersebut.

Bertakwalah kepada Allah, niscaya Dia mengajar kamu.
Dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.

Atas dasar itu semua, Al-Quran memandang bahwa seseorang  yang
memiliki  ilmu  harus  memiliki  sifat dan ciri tertentu pula,
antara lain yang paling menonjol adalah sifat  khasyat  (takut
dan   kagum   kepada   Allah)   sebagaimana  ditegaskan  dalam
firman-Nya,

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya adalah ulama (QS Fathir [35]: 28).

Dalam konteks ayat ini,  ulama  adalah  mereka  yang  memiliki
pengetahuan tentang fenomena alam.

Rasulullah Saw. menegaskan bahwa:

Ilmu itu ada dua macam, ilmu di dalam dada, itulah
yang bermanfaat, dan ilmu sekadar di ujung lidah,
maka itu akan menjadi saksi yang memberatkan manusia.

MANFAAT ILMU

Dari  wahyu   pertama,   juga   ditemukan   petunjuk   tentang
pemanfaatan  ilmu.  Melalui  Iqra’  bismi  Rabbika, digariskan
bahwa titik tolak atau motivasi pencarian ilmu, demikian  juga
tujuan akhirnya, haruslah karena Allah.

Syaikh Abdul Halim Mahmud, mantan pemimpin tertinggi Al-Azhar,
memahami Bacalah demi Allah  dengan  arti  untuk  kemaslahatan
makhluknya.  Bukankah  Allah  tidak  membutuhkan  sesuatu, dan
justru makhluk yang membutuhkan Allah Swt.?

Semboyan “ilmu untuk ilmu” tidak dikenal dan tidak  dibenarkan
oleh  Islam. Apa pun ilmunya, materi pembahasannya harus bismi
Rabbik, atau dengan kata lain harus bernilai Rabbani. Sehingga
ilmu  yang  –dalam kenyataannya dewasa ini mengikuti pendapat
scbagian ahli– “bebas nilai”, harus diberi nilai Rabbani oleh
ilmuwan Muslim.

Kaum   Muslim   harus   menghindari   cara   berpikir  tentang
bidang-bidang yang tidak menghasilkan manfaat,  apalagi  tidak
memberikan  hasil kecuali menghabiskan energi. Rasulullah Saw.
sering berdoa,

Wahai Tuhan, Aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang
tidak bermanfaat.

Atas dasar ini  pula  berpikir  atau  menggunakan  akal  untuk
mengungkap  rahasia  alam  metafisika,  tidak boleh dilakukan.
Artinya,  hati  mesti  dipergunakan  untuk  menjelajahi   alam
metafisika.

Menarik   untuk  dikemukakan  bahwa  ayat-ayat  Al-Quran  vang
berbicara  tentang  alam  raya,   menggunakan   redaksi   yang
berlainan  ketika  menunjukkan manfaat yang diperoleh dan alam
raya, walaupun objek atau bagian alam yang diuraikan sama.

Perhatikan misalnya  ketika  Al-Quran  menguraikan  as-samawat
wal-ardh. Dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 164, penjelasan
ditutup  dengan  menyatakan,  la  ayatin  liqaum(in)  ya’qilun
(sungguh   terdapat  tanda-tanda  bagi  orang  yang  berakal).
Sedangkan dalam Al-Quran  surat  Ali-‘Imran  ayat  90,  ketika
menguraikan  persoalan  yang  sama  diakhiri  dengan la ayatin
li-ulil albab (pada yang  demikian  itu  terdapat  tanda-tanda
bagi  Ulil  Albab  [orang-orang  yang memiliki saripati segala
sesuatu].

Inilah antara lain fashilat {penutup) ayat-ayat yang berbicara
tentang  alam  raya,  yang  darinya dapat ditarik kesan adanya
beragam tingkat dan manfaat yang seharusnya dapat diraih  oleh
mereka  yang  mempelajari  fenomena  alam:  yatafakkarun (yang
berpikir) (QS 10: 24) ya’lamun (yang mengetahui) (QS  10:  5),
yatazakkarun  (yang mengambil pelajaran) (QS 16: 13), ya’qilun
(yang memahami) (QS 16: 12), yasma’un (yang mendengarkan)  (QS
30:  23),  yuqinun  (yang  meyakini)  (QS  45: 4), al-mu’minin
(orang-orang yang beriman) (QS 45: 3), al-‘alimin (orang-orang
yang mengetahui) (QS 30: 22).

ILMU DAN TEKNOLOGI

TEKNOLOGI

Dalam   Kamus  Besar  Bahasa  Indonesia,  teknologi  diartikan
sebagai “kemampuan teknik yang berlandaskan  pengetahuan  ilmu
eksakta  dan berdasarkan proses teknis.” Teknologi adalah ilmu
tentang cara menerapkan sains  untuk  memanfaatkan  alam  bagi
kesejahteraan dan kenyamanan manusia.

Kalau  demikian,  mesin  atau  alat  canggih yang dipergunakan
manusia bukanlah teknologi,  walaupun  secara  umum  alat-alat
tersebut  sering  diasosiasikan sebagai teknologi. Mesin telah
dipergunakan oleh manusia sejak berabad yang lalu, namun  abad
tersebut belum dinamakan era teknologi.

Menelusuri  pandangan  Al-Quran  tentang teknologi, mengundang
kita menengok  sekian  banyak  ayat  Al-Quran  yang  berbicara
tentang  alam  raya.  Menurut sebagian ulama, terdapat sekitar
750 ayat Al-Quran  yang  berbicara  tentang  alam  materi  dan
fenomenanya,  dan  yang memerintahkan manusia untuk mengetahui
dan memanfaatkan alam ini.  Secara  tegas  dan  berulang-ulang
Al-Quran menyatakan bahwa alam raya diciptakan dan ditundukkan
Allah untuk manusia.

Dan dia menundukkan untuk kamu apa yang ada di langit
dan apa yang ada di bumi semuanya (sebagai anugerah)
dari-Nya (QS Al-Jatsiyah [45]: 13).

Penundukan tersebut –secara  potensial–  terlaksana  melalui
hukum-hukum  alam  yang  ditetapkan  Allah  dan kemampuan yang
dianugerahkan-Nya   kepada   manusia.   Al-Quran   menjelaskan
sebagian dari ciri tersebut, antara lain:

(a)  Segala  sesuatu  di  alam  raya  ini  memiliki  ciri  dan
hukum-hukumnya.

Segala sesuatu di sisi-Nya memiliki ukuran (QS
Al-Ra’d [13]: 8)

Matahari dan bulan yang beredar dan memancarkan sinar,  hingga
rumput  yang  hijau subur atau layu dan kering, semuanya telah
ditetapkan  oleh  Allah  sesuai  ukuran  dan   hukum-hukumnya.
Demikian  antara  lain  dijelaskan  oleh Al-Quran surat Ya Sin
ayat 38 dan Sabihisma ayat 2-3

(b) Semua yang berada di alam raya ini tunduk kepada-Nya:

Hanya kepada Allah-lah tunduk segala yang di 1angit
dan di bumi secara sukarela atau terpaksa (QS Al-Ra’d
[13]: 15).

(c) Benda-benda alam –apalagi  yang  tidak  bernyawa–  tidak
diberi  kemampuan  memilih,  tetapi  sepenuhnya  tunduk kepada
Allah melalui hukum-hukum-Nya.

Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan
langit yang ketika itu masih merupakan asap, lalu Dia
(Allah) berkata kepada-Nya, “Datanglah (Tunduklah)
kamu berdua (langit dan bumi) menurut perintah-Ku
suka atau tidak suka!” Mereka berdua berkata, “Kami
datang dengan suka hati” (QS Fushshilat: ll).

Di sisi lain, manusia diberi kemampuan untuk  mengetahui  ciri
dan  hukum-hukum  yang berkaitan dengan alam raya, sebagaõmana
diinformasikan oleh firman-Nya dalam Al-Quran surat Al-Baqarah
ayat 31,

Allah mengajarkan Adam nama-nama semuanya

Yang dimaksud nama-nama pada ayat tersebut adalah sifat, ciri,
dan  hukum  sesuatu. Ini berarti manusia berpotensi mengetahui
rahasia alam raya.

Adanya potensi itu,  dan  tersedianya  lahan  yang  diciptakan
Allah,  serta  ketidakmampuan  alam  raya membangkang terhadap
perintah  dan  hukum-hukum  Tuhan,  menjadikan  ilmuwan  dapat
memperoleh  kepastian  mengenai  hukum-hukum  alam. Karenanya,
semua itu mengantarkan manusia berpotensi  untuk  memanfaatkan
alam  yang  telah  ditundukkan Tuhan. Keberhasilan memanfatkan
alam itu merupakan buah teknologi.

Al-Quran memuji sekelompok manusia yang dinamainya ulil albab.
Ciri  mereka antara lain disebutkan dalam surat Ali-‘Imran (3)
190-191:

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan
silih bergantinya malam dan siang terdapat
tanda-tanda bagi ulil albab. Yaitu mereka yang
berzikir (mengingat) Allah sambil berdiri, atau duduk
atau berbaring, dan mereka yang berpikir tentang
kejadian langit dan bumi …

Dalam ayat-ayat di atas tergambar dua ciri pokok  ulil  albab,
yaitu  tafakkur  dan  dzikir.  Kemudian  keduanya menghasilkan
natijah yang diuraikan pada ayat 195:

Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonan mereka
dengan berfirman, “Sesungguhnya Aku tidak
menyia-nyiakan amal yang beramal di antara kamu, baik
lelaki maupun perempuan …”

Natijah bukanlah sekadar ide-ide yang  tersusun  dalam  benak,
melainkan    melampauinya   sampai   kepada   pengamalan   dan
pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari.

Muhammad Quthb dalam bukunya Manhaj  At-Tarbiyah  Al-Islamiyah
mengomentari ayat Ali ‘Imran tadi sebagai berikut:

[tulisan Arab]

Maksudnya adalah bahwa  ayat-ayat  tersebut  merupakan  metode
yang  sempurna  bagi  penalaran  dan pengamatan Islam terhadap
alam. Ayat-ayat itu mengarahkan  akal  manusia  kepada  fungsi
pertama  di  antara sekian banyak fungsinya, yakni mempelajari
ayat-ayat Tuhan yang  tersaji  di  alam  raya  ini.  Ayat-ayat
tersebut bermula dengan tafakur dan berakhir dengan ama1

Lebih jauh dapat ditambahkan bahwa “Khalq As-samawat wal Ardh”
di samping berarti membuka tabir sejarah penciptaan langit dan
bumi, juga bermakna “memikirkan tentang sistem tata kerja alam
semesta”. Karena kata khalq selain berarti “penciptaan”,  juga
berarti  “pengaturan  dan pengukuran yang cermat”. Pengetahuan
tentang  hal  terakhir   ini   mengantarkan   ilmuwan   kepada
rahasia-rahasia  alam, dan pada gilirannya mengantarkan kepada
penciptaan teknologi yang menghasilkan kemudahan  dan  manfaat
bagi umat manusia.

Jadi,  dapatkah  dikatakan  bahwa  teknologi merupakan sesuatu
yang dianjurkan oleh Al-Quran?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, ada dua  catatan  yang  perlu
diperhatikan.

Pertama,  ketika  Al-Quran  berbicara  tentang  alam  raya dan
fenomenanya, terlihat secara jelas bahwa pembicaraannya selalu
dikaitkan dengan kebesaran dan kekuasaan Allah Swt.

Perhatikan misalnya uraian Al-Quran tentang kejadian alam:

Apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa
langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah satu yang
padu, kemudian Kami (Allah) pisahkan keduanya, dan
dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka
mengapa mereka tidak juga beriman? (QS Al-Anbiya’
[21]: 30).

Ayat  ini  dipahami  oleh  banyak  ulama  kontemporer  sebagai
isyarat tentang teori Big Bang (Ledakan Besar), yang mengawali
terciptanya langit dan bumi. Para  pakar  boleh  saja  berbeda
pendapat  tentang  makna  ayat  tersebut, atau mengenai proses
terjadinya pemisahan  langit  dan  bumi.  Yang  pasti,  ketika
Al-Quran   berbicara  tentang  hal  itu,  dikaitkannya  dengan
kekuasaan  dan  kebesaran  Allah;  serta   keharusan   beriman
pada-Nya.

Pada   saat   mengisyaratkan   pergeseran  gunung-gunung  dari
posisinya,  sebagaimana  kemudian  dibuktikan   para   ilmuwan
informasi itu dikaitkan dengan Kemahahebatan Allah Swt.: ~

Kamu lihat gunung-gunung, yang kamu sangka tetap di
tempatnya, padahal berjalan sebagaimana halnya awan.
Begitulah perbuatan Allah, yang membuat dengan kokoh
tiap-tiap sesuatu. Sesungguhnya Allah mengetahui apa
yang kamu kerjakan (QS Al-Naml [27]: 88).

Ini  berarti  bahwa  sains  dan  hasil-hasilnya  harus  selalu
mengingatkan  manusia  terhadap  Kehadiran  dan  Kemahakuasaan
Allah  Swt.,  selain   juga   harus   memberi   manfaat   bagi
kemanusiaan, sesuai dengan prinsip bismi Rabbik.

Kedua,  Al-Quran  sejak  dini memperkenalkan istilah sakhkhara
yang maknanya bermuara kepada “kemampuan meraih –dengan mudah
dan  sebanyak  yang  dibutuhkan–  segala  sesuatu  yang dapat
dimanfaatkan  dari  alam  raya  melalui  keahlian  di   bidang
teknik”.

Ketika  Al-Quran  memilih  kata  sakhhara yang arti harfiahnya
menundukkan atau merendahkan, maksudnya adalah agar alam  raya
dengan  segala  manfaat yang dapat diraih darinya harus tunduk
dan dianggap sebagai sesuatu yang posisinya  berada  di  bawah
manusia.  Bukankah  manusia  diciptakcan  oleh  Allah  sebagai
khalifah?  Tidaklah  wajar   seorang   khalifah   tunduk   dan
merendahkan  diri  kepada sesuatu yang telah ditundukkan Allah
kepadanya. Jika khalifah tunduk atau  ditundukkan  oleh  alam.
maka ketundukan itu tidak sejalan dengan maksud Allah Swt.

Di atas telah dikemukakan bahwa penundukan Allah terhadap alam
raya bersama potensi yang dimiliki  manusia  –bila  digunakan
secara baik– akan membuahkan teknologi.

Dari  kedua catatan yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan
bahwa  teknologi   dan   hasil-hasilnya   di   samping   harus
mengingatkan  manusia  kepada  Allah,  juga harus mengingatkan
bahwa manusia adalah khalifah  yang  kepadanya  tunduk  segala
yang berada di alam raya ini.

Kalaulah  alat  atau  mesin dijadikan sebagai gambaran konkret
teknologi,  dapat  dikatakan  bahwa  pada  mulanya   teknologi
merupakan   perpanjangan   organ   manusia.   Ketika   manusia
menciptakan pisau sebagai  alat  pemotong,  alat  ini  menjadi
perpanjangan   tangannya.  Alat  tersebut  disesuaikan  dengan
kebutuhan dan organ manusia. Alat itu sepenuhnya tunduk kepada
si   Pemakai,   melebihi   tunduknya  budak  belian.  Kemudian
teknologi berkembang,  dengan  memadukan  sekian  banyak  alat
sehingga  menjadi mesin. Kereta, mesin giling, dan sebagainya,
semuanya  berkembang,  khususnya  ketika  mesin   tidak   lagi
menggunakan  sumber  energi  manusia  atau binatang, melainkan
air, uap, api, angin, dan sebagainya. Pesawat udara, misalnya,
adalah   mesin.   Kini,   pesawat  udara  tidak  lagi  menjadi
Perpanjangan organ manusia, tetapi perluasan  atau  penciptaan
organ  dan manusia. Bukankah manusia tidak memiliki sayap yang
memungkinkannya  mampu  terbang?  Tetapi  dengan  pesawat,  ia
bagaikan  memiliki  sayap.  Alat atau mesin tidak lagi menjadi
budak, tetapi telah menjadi kawan manusia.

Dari  hari  ke  hari  tercipta  mesin-mesin  semakin  canggih.
Mesin-mesin     tersebut    melalui    daya    akal    manusia
–digabung-gabungkan dengan  yang  lainnya,  sehingga  semakin
kompleks,  serta  tidak  bisa  lagi dikendalikan oleh seorang.
Tetapi akhirnya mesin dapat mengerjakan tugas yang dulu  mesti
dilakukan  oleh  banyak  orang.  Pada  tahap  ini, mesin telah
menjadi  semacam  “seteru”  manusia,  atau  lawan  yang  harus
disiasati agar mau mengikuti kehendak manusia.

Dewasa   ini  telah  lahir  teknologi  –khususnya  di  bidang
rekayasa genetika– yang dikhawatirkan dapat  menjadikan  alat
sebagai   majikan.   Bahkan   mampu   menciptakan  bakal-bakal
“majikan” yang akan diperbudak dan ditundukkan oleh alat. Jika
begitu,  ini  jelas  bertentangan  dengan  kedua  catatan yang
disebutkan di terdahulu.

Berdasarkan  petunjuk  kitab  sucinya,  seorang  Muslim  dapat
menerima  hasil-hasil  teknologi  yang  sumbernya  netral, dan
tidak menyebabkan maksiat, serta bermanfaat bagi manusia, baik
mengenai  hal-hal  yang  berkaitan  dengan  unsur “debu tanah”
manusia maupun unsur “ruh Ilahi” manusia.

Seandainya penggunaan satu hasil  teknologi  telah  melalaikan
seseorang dari zikir dan tafakur, serta mengantarkannya kepada
keruntuhan nilai-nilai  kemanusiaan,  maka  ketika  itu  bukan
hasil  teknologinya  yang  mesti ditolak, melainkan kita harus
memperingatkan  dan  mengarahkan  manusia   yang   menggunakan
teknologi  itu. Jika hasil teknologi sejak semula diduga dapat
mengalihkan manusia darl jati  diri  dari  tujuan  penciptaan,
sejak  dini  pula kehadirannya ditolak oleh Islam. Karena itu,
menjadi suatu persoalan besar bagi martabat  manusia  mengenai
cara  memadukan  kemampuan  mekanik demi penciptaan teknologi,
dengan   pemeliharaan   nilai-nilai    fitrahnya.    Bagaimana
mengarahkan  teknologi  yang  dapat  berjalan  seiring  dengan
nilai-nilai Rabbani, atau dengan kata lain bagaimana memadukan
pikir dan zikir, ilmu dan iman?

***

Al-Quran    memerintahkan   manusia   untuk   terus   berupaya
meningkatkan kemampuan  ilmiahnya.  Jangankan  manusia  biasa,
Rasul  Allah Muhammad Saw. pun diperintahkan agar berusaha dan
berdoa agar selalu ditambah  pengetahuannya  Qul  Rabbi  zidni
‘ilma  (Berdoalah  [hai  Muhammad],  “Wahai Tuhanku, tambahlah
untukmu ilmu”) (QS Thaha [20]: 114),  karena  fauqa  kullu  zi
‘ilm  (in)  ‘alim (Di atas setiap pemilik pengethuan, ada yang
amat mengetahui (QS Yusuf [12]: 72).

Manusia  memiliki  naluri  selalu   haus   akan   pengetahuan.
Rasulullah Saw. bersabda:

Dua keinginan yang tidak pernah puas, keinginan
menuntut ilmu dan keinginan menuntut harta.

Hal ini dapat menjadi pemicu manusia untuk terus mengembangkan
teknologi  dengan memanfaatkan anugerah Allah yang dilimpahkan
kepadanya. Karena  itu,  laju  teknologi  memang  tidak  dapat
dibendung.  Hanya saja manusia dapat berusaha mengarahkan diri
agar tidak memperturutkan nafsunya  untuk  mengumpulkan  harta
dan  ilmu/teknologi  yang  dapat  membahayakan dinnya. Agar ia
tidak menjadi  seperti  kepompong  yang  membahayakan  dirinya
sendiri karena kepandaiannya.

Al-Quran menegaskan:

Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu adalah
seperti (hujan) yang Kami turunkan dan langit, lalu
tumbuhlah dengan suburnya –karena air itu–
tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan
manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu
telah sempurna keindahannya dan memakai (pula)
perhiasannya dan penghuni-penghuninya telah menduga
bahwa mereka mampu menguasainya (melakukan segala
sesuatu), tiba-tiba datanglah kepadanya azab kami di
waktu malam atau siang, maka kami jadikan
(tanaman-tanamannya) laksana tanaman-tanaman yang
sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh
kemarin. Demikianlah kami menjelaskan tanda-tanda
kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir (QS
Yunus [10]: 24).[]

—————-
WAWASAN AL-QURAN
Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat
Dr. M. Quraish Shihab, M.A.
Penerbit Mizan
Jln. Yodkali No.16, Bandung 40124
Telp. (022) 700931  Fax. (022) 707038
mailto:mizan@ibm.net

Posted on 6 Januari 2012, in Renungan and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Ayo Komentar Sedulur Kami Tunggu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: