SURAT ANAK NEGERI


Kami mendengar kesedihan dan rintihan perasaanmu. Kami melihat dan menyaksikan kemarahanmu. Kami mengerti wahai ibu, kami adalah anak negeri yang telah durhaka kepada engkau. Kami hidup, mencari nafkah, berketurunan dan meninggal di dalam kandungmu. Kami tahu engkau tidak puas dengan keadaan saat ini, negerimu yang subur dan mengandung sumber daya alam yang tak terhitung tapi menyisakan berbagai masalah kehidupan. Kekeringan, banjir, longsor, gunung meletus, kecelakaan, korupsi, kolosi, nepotisme, kejahatan, kemiskinan, kefakiran adalah ulah kami kepada negeri ini. Maafkan kami yang telah khilaf kepadamu.

Kami telah jauh dari mengingatmu. Jati diri yang telah engkau berikan telah kami lupakan. jati diri yang sempat membuat kami menjadi negeri yang besar dan disegani telah kami tinggalkan. Kami lebih suka berkiblat kepada timur maupun barat. Kami lebih suka mengagungkan nenek moyang bangsa mereka daripada mengagungkan nenek moyang bangsa sendiri. Kami menjadi sangat benci akan ajaran luhur dari nenek moyang kami.

Dengan sepenuh hati kami akan meminta kepada Tuhan, permintaan dari anak negeri. Tuhan kembalikan senyum Ibuku, Ibu Pertiwi. Tuhan yang Maha Penolong, tolonglah Ibu Pertiwi. DihadapanMu kami bersimpuh mengaku salah. Negeri yang telah Engkau titipkan kepada kami telah hancur berkeping-keping. Berserakan. Sehingga negeri ini telah menjadi negeri asing bagi kami sendiri.

Tuhan yang Maha Mengerti. Jangan ajarkan kami tentang islam, hindu, budha,  maupun Kristen. Telah lama pikiran kami tersekat-sekat oleh ajaran. Ajarkan kami tentang kebenaran dalam hidup ini. Kebenaran sejati. Telah lama kami saling mengaku yang paling benar diantara sesama. Jangan ajarkan kami tentang persatuan, tapi ajarkan kami tentang perbedaan agar kami bisa memahami bahwa perbedaan adalah hal terindah yang telah Engkau ciptakan. Bahwa perbedaan menjadi dasar persatuan yang paling kuat dengan saling memahami.

Atas nama anak negeri. Dengarkan wahai saudara semua. Siapapun boleh datang ke tanah nusantara ini. Siapapun boleh menyampaikan ajaran yang bisa mencerahkan negeri ini. Berbagi pengetahuan. Berbagi rasa. Berbagi keahlian. Turut serta memakmurkan dan menegakkan keadilan. Tapi ingat, siapa diri anda. Jangan mengobok-obok negeri kami. Walaupun dengan dalih agama. Jangan ikut campur urusan internal kami. Kami tahu negeri ini sedang sakit. Kami pun juga tahu apa yang harus dilakukan.

Wahai saudaraku semua. Maju satu langkah. Kepalkan tangan. Mundur berarti penghianatan. Kita bergerak untuk membuat senyum Ibu Pertiwi terjadi lagi. Bulatkan tekat dan kuatkan hati untuk membuat jaya negeri ini. Kita buat Ibu Pertiwi bangga dengan mewujudkan cita-citanya. Bangun dan songsong hari esok yang lebih baik, karena kita adalah anak negeri. Anak dari Ibu Pertiwi.

JAYALAH NEGERIKU. JAYALAH NUSANTARAKU. TERSENYUMLAH KEMBALI IBUKU.

By Kang TJ
a.judin@yahoo.co.id

Dipublikasikan Oleh: Kampus Wongalus

Posted on 25 Oktober 2011, in Renungan and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Ayo Komentar Sedulur Kami Tunggu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: