Antara Aku, Kau dan Dia


Violla Mae
FB: “violla mae”

Punya banyak teman dalam hidup sungguh terasa sangat membahagiakanku. Ini anugerah Allah yang tiada ternilai selepas aku ditinggal pergi oleh suamiku menghadap Allah SWT. Ya, kini aku seorang diri mengarungi bahtera hidup ditemani anakku terkasih. Kulalui hari-hariku untuk beribadah dengan skala yang luas, bekerja keras sambil sesekali menghibur diri dengan membuka pertemanan di akun facebook. Bagiku, facebook adalah hiburan dan sekaligus lorong-lorong berliku mengenal sisi dunia manusia yang berseluk beluk. Bahkan kadang kisah kasih asmara pun lahir dari jejaring dunia maya ini, dan ini tidak bisa aku pungkiri juga menerpa diriku Kisahnya bermula saat sebuah inbox di fb nyantel pesan yang berisi seorang pria ingin berkenalan.


Ia sosok tegas jentelmen dan tiada tedeng aling-aling mengisahkan perjalanan hidupnya sampai dia merasa berada tergantung gantung di ujung pohon pring. Terbawa angin tapi ndak jatuh, ketakutan demi ketakutan mendera saat angin berembus. Awalnya, aku tak menjawab bukan karena aku tak ingin menolongnya.. tapi karena aku sadar bukan psikolog juga bukan paranormal atau nyai yang doanya manjur untuk mengubah nasibnya. Terus terang awalnya aku cuek dengan penderitaannya.

Entah kenapa, banyak pria mendekat padahal mereka sebenarnya punya masalah yaitu belum selesai dengan EGOnya dan memang semua orang punya masalah meski dalam kadar dan beban yang berbeda. Aku tak punya cukup tenaga menggerakkan jari meladeni mereka semua dan daripada pilih kasih untuk menjawab satu namun tidak menjawab yang lain, akhirnya ya kuterlantarkan saja smua inbox tersebut. Maaf aku tidak sombong namun memang benar-benar tiada daya dan kuasa apapun menjawab inbox mereka.

Iseng suatu ketika kusimak inbox demi inbox. Pas nyampe ke satu pria ia menulis kalimat pembuka yang menyentak: Hunny, I Miss You…. terbelalaklah mata saya membacanya. Baru kali ini aku diberi ucapan mesra yang biasanya disampaikan ke teman yang sudah akrab tersebut.

Biasanya dan ini teramat biasa hal hal aneh-aneh lah yang mampir. Dulu kata-kata rayuan seperti ini terasa biasa namun entah kali ini lain rasanya. Seiring dengan semakin banyaknya teman makin senanglah saya. Matur suwun kepada mereka yang dengan suka rela bersahabat dengan saya.. diam diam saya menyimpan rasa kangen bila sehari tidak mendaratkan mata untuk membaca kalimat-kalimat status mereka baik itu di blog, email maupun di inbox fb.

Hunny, I Miss You….terasa menggetarkan jala-jala hati. Ehe.. asik.. ternyata diriku masih punya perasaan toh… Kirain sudah jadi robot yang digerakkan dan diremote oleh teman-teman dan lingkunganku. Makanya, aku bersyukur banget bila masih merasa grengg di usiaku yang tiga puluhan ini. Kurasakan khayalan menjadi manusia yang masih muda, seperti pupus daun hijau indah yang mengembang, mencari arah cahaya matahari di langit dan akupun bersiap untuk menyambut datangnya fase baru dalam hidupku yang hampir ditenggelamkan masa dewasa. Saya pun bergolak, bergolak dan bergolak…. dan “bersyukurlah bila cinta datang..

Sambutlah dengan kedua tangan dan terimalah dengan hati lapang.. Biarkan bunga-bunganya mekar, mewangi mengharumkan isi duniamu tapi jangan kebablasan karena cinta itu hanya pinjaman sifat Rahman (cinta kasih individual) dan Rahim (cinta kasih universal) -NYA”… Kami pun ber-sms, berinbox, bertelepon-teleponan. Kasih sayang di antara kami tumbuh seperti mawar di ladang subur yang basah. Kami memang akhirnya terlibat di dalam dunia asmara yang lalai lupa dan tersesat.

Tuhan Maha Pencemburu berat bila kita menaruh cinta pada sesuatu namun berlebihan. Cinta dunia tidak pernah ada tepinya. Fatamorgana yang senantiasa menawarkan jalan kepuasan mengobati haus dan dahaga namun sesungguhnya hanya sesaat dan palsu. Dunia memang fana, dan kami hanya mampu mengingat meski sudah terlalu lamat. Otak kami bebal dan alot untuk bergerak menyadari kesalahan yang kami timbun oleh lemak kemanusiaan yang terbungkus oleh nafsu.

Seketika Kun Fayakunnya bergerak cepat, Kampak Ibrahim melibas kepalsuan cinta dan asmara kami…. Hancur lebur berhala yang kami bikin, sesembahan asmara kami… Kami lemas terkulai, betapa luar biasa anugerah NYA.. Allah memang sang Maha Guru Sejati yang siap mengajari kita selama kita membuka diri terhadap setiap bahan ajar NYA.

Saya tak mampu membayangkan, apa jadinya bila dulu kami tidak dihantamnya dengan Kampak Ibrahim tersebut.. Menyakitkan namun sesungguhnya ia menyelamatkan kita dari lembah nista. Tersungkur aku ke cengkraman tangan NYA yang begitu perkasa melalui Ibrahim bapakku… Terbuka sebuah pemandangan di angkasa anganku manakala Ibrahim AS berproses mencari Allah Siapakah Sang pecinta Sejati yang mengasihi semesta langit dan bumi? Bintangkah, bulankah? Atau mataharikah?

Ternyata bukan.. Karena ketekunannya dan keyakinannya, akhirnya Sang Ibrahim AS benar-benar menemukan Tuhan Maha Pencipta Semesta Alam ini. Sang Pecinta Sejati yang sudi untuk menghidupi semua ini adalah Allah SWT yang hanya bisa disaksikan bila kita sudah terbakar oleh api hidayah-NYA.

Tanpa api ini, secerdas apapun akal tidak akan mampu menggapai kesimpulan ini,.. jangankan mengenal.. berangan-angan tentangNYA pun tiada akan mampu. Lalu aku meneruskan perjalanan cinta. Mabuk aku di jalan yang lengang begitu ku ketahui bahwa DIA ternyata begitu jauuuuuhhhhhhh…. DIA adalah Yang Ketiga, belum Yang Kedua dan Kesatu.

Pada suatu senja yang temaram, cintaku berlabuh ke Jantung Musa. Siapakah Nabiyullah Musa AS ini? Kuteladani perjalanannya mencari kesejatian cinta. Dan aku menemukan diri Musa yang berhadapan dengan Sang Pecinta Sejati. Bahkan guruku yang satu ini pernah jagongan face to face dengan Allah SWT di Bukit Thursina dengan cara unik.. ekstase, jatuh tersungkur dalam bara api cinta membara. Allahu Akbar… Aku terkesima… Sang Pecinta Sejati itu tidak jauh karena ada di hadapanku sendiri… ENGKAU adalah Yang Kedua dan ini memuaskanku.

Namun ketika hari menjelang siang, tiba-tiba perasaan dekatku itu lenyap begitu saja… Kumenangis tersedu-sedu dan kuayunkan langkah kakiku menuju ke Barat.. Detik demi detik, menit demi menit dan jam demi jam, hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, dekade demi dekade, centurion demi centurion, millenium demi millenium kulalui.. kucari Cinta Sejati yang hilang itu….

Hingga pada sebuah tempat dan waktu yang tidak bisa kudefinisikan aku bertemu dengan seorang sesepuh. Yunus AS namanya yang sedang melakukan pertobatan dengan kalimat yang memposisikan Sang Pecinta Sejati dengan mewiridkan La ilaha ila Anta subhanaka inni kuntu minadz-dzolimin, tidak ada Tuhan selain Engkau ya Allah, sungguh Maha Suci Engkau, dan kami ini termasuk orang-orang yang dzalim.

Aku belum puas.. masih ada jarak yang menganga. Antara aku dan engkau dan aku ingin cintaku lebih dari sekedar dekat hingga sampailah aku ke sebuah momentum indah perjumpaan cinta Isa Alaihi Salam. Isa telah “menjadi” Sang Pecinta Sejati itu sendiri. Ketika itu, keteladanan Isa AS adalah penebar Rahman dan Rahim, cinta-kasih, kelembutan, dan kasih sayang bahkan mu’jizat menyembuhkan orang yang sakit, buta, bisa menghidupkan orang yang sudah mati yang hanya bisa dilakukan oleh Ilahi Robbi…

Terkesima dengan kedekatan Isa A.S kepada Sang Empunya Kasih Mesra Sejati, aku dihentakkan kesadaran bahwa jaman telah berganti dan aq harus menuju ke semesta yang lain… Masuklah cintaku ke jiwa sang Rasulullah Muhammad SAW.. disana terbuka segala kemungkinan .. di getar hati yang manakah yang tidak kutemukan betapa mesranya betapa jujurnya aku berhadapan dengan Allah?

Jika Engkau sedang ada disana maka kusebut DIA dan jika Engkau ada dihadapanku maka kusebut dengan Engkau dan jika kekasih kita itu tak berbatas jarak dan menyatu dengan aku maka Ijinkan aku memesrai dengan AKU sendiri… dan kini, ijinkanlah aku menyayangimu tidak melalui inbox, sms, chat atau telepon karena melalui hatimu aku mengenalmu dan itu sesungguhnya sudah bersemayam di hatiku.

Kun Fayakun …. Kampak Ibrahim AS, Tongkat Musa AS, Kasih Isa AS dan Kebijaksanaan Muhammad SAW melibas kepalsuan-kepalsuan cinta dan asmara kami….

Dan akupun akhirnya tetap sendiri dalam kesejatianku hingga sekarang…

Allah SWT, Miss You Always in My Heart… hanya kepada-MU kisah kasihku ini kusampaikan dan untuk siapapun sahabatku di fb… aku mencintai kalian semua tanpa terkecuali.  Satu untuk semua, Semua untuk satu,  Semua untuk semua!  Salam hangat dariku. @@@

Dipublikasikan Oleh : KAMPUS WONGALUS

Posted on 4 Desember 2011, in Renungan and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Ayo Komentar Sedulur Kami Tunggu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: